Selasa, 16 Juli 2013

Ilmu Pengetahuan

  Perbanyakan tanaman

AKLIMATISASI
Suatu tahapan yang sangat penting dalam teknik kultur jaringan adalah aklimatisasi planlet yang ditanam secara in vitro kedalam rumah kaca atau langsung ke lapang. Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang.
Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik. Aklimatisasi bertujuan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur terhadap lingkungan baru sebelum kemudian ditanam di lahan yang sesungguhnya. Aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman beradaptasi sengan perubahan lingkungan.
Berdasarkan uraian diatas maka perlu adanya pengetahuan tentang bagaimana Memberikan pengalaman tentang tata cara aklimatisasi planlet hasil kultur jaringan, serta Mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam di lapang dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.
Tujuan dari praktikum ini agar kita dapat mengetahui bagaimana tentang tata cara aklimatisasi planlet hasil kultur jaringan.
Kegunaan dari praktikum ini yaitu agar kita dapat mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam di lapang dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.
Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tidak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik. Aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman beradaptasi sengan perubahan lingkungan (Torres, 1989).
Pada tahap ini (aklimatisasi) diperlukan ketelitian karena tahap ini merupakan tahap kritis dan seringkali menyebabkan kematian planlet. Kondisi mikro planlet ketika dalam botol kultur adalah dengan kelembaban 90-100 %. Beberapa sumber menuliskan penjelasan yang berkaitan dengan hal tersebut.Bibit yang ditumbuhkan secara in vitro mempunyai kutikula yang tipis dan jaringan pembuluh yang belum sempurna (Wetherell, 1982).
Kutikula yang tipis menyebabkan tanaman lebih cepat kehilangan air dibanding dengan tanaman yang normal dan ini menyebabkan tanaman tersebut sangat lemah daya bertahannya. Walaupun potensialnya lebih tinggi, tanaman akantetap menjadi layu karena kehilangan air yang tidak terbatas (Pospisilova et al, 1996). Kondisi tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat langsung ditanam dirumah kaca (Wetherelll, 1982).
Mengacu pada penjelasan tersebut di atas maka planlet terlebih dahulu harus ditanam didalam lingkungan yang memadai untuk pertumbuhannya kemudian secara perlahan dilatih untuk terus dapat beradaptasi dengan lingkungan sebenarnya di lapang. Lingkungan yang tersebut secara umum dapat diperoleh dengan cara memindahkan planlet kedalam plastik atau boks kecil yang terang dengan terus menurunkan kelembaban udaranya. Planlet-planlet tersebut kemudian diaklimatisasi secara bertahap mengurangi kelembaban relatif lingkungannya, yaitu dengan cara membuka penutup wadah plastik atau boks secara bertahap pula (Torres, 1989).
Selain itu, tanaman juga memerlukan akar untuk menyerap hara agar dapat tumbuh dengan baik sehingga dalam tahap aklimatisasi ini diperlukan suatu media yang dapat mempermudah pertumbuhan akar dan dapat menyediakan hara yang cukup bagi tanaman (planlet) yang diaklimatisasi tersebut. Media yang remah akan memudahkan pertumbuhan akar dan melancarkan aliran air, mudah mengikat air dan hara, tidak mengandung toksin atau racun, kandungan unsur haranya tinggi, tahan lapuk dalam waktu yang cukup lama. Media aklimatisasi bibit kultur jaringan krisan dan kentang di Indonesia saat ini adalah media arang sekam atau media campuran arang sekam dan pupuk kandang (Marzuki, 1999).
Arang sekam merupakan salah satu media hidroponik yang baik karena memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut; mampu menahan air dalam waktu yang relatif lama, termasuk media organik sehingga ramah lingkungan, lebih steril dari bakteri dan jamur karena telah dibakar terlebih dahulu, dan hemat karena bisa digunakan hingga beberapa kali (Sinaga, 2001). 
Alat dan bahan :
Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :
-bibit yang telah berumur 8-12 minggu sejak dikulturkan,                        - Akar pakis
- arang sekam (sebagai media tanam),                                             -Bakterisida
 -Air steril                                                                                                -Fungisida

-Pot  (sebagai wadah tanam),                                     -Wadah/baskom persegi     
-Pinset                                                                            -Pengaduk
-Timbangan                                                                   -Sendok
-Tirisan                                                                            -Alkohol
-Tissue atau Kapas                                                      -Kertas
Langakah kerja AKLIMATISASI
Ø Alat dan Bahan disiapkan terlebih dahulu beserta Menertibkan K3 nya
Ø Sterilkan media yang terdiri dari arang dan pakis,media arang dan akar pakis terlebih dipotong-potong terlebih dahulu agar ukurannya kecil, setelah itu baru media tersebut dicuci dengan air yang bersih. Rendam media tanam untuk aklimatisasi did lam larutan fungisida dan bakterisida dengan konsentrasi 2gram/Lt air,di rendam selama 15 – 30 menit.
Ø Setelah direndam tiriskan media tersebut, Penyusunan medianya yaitu arang terlebih dahulu dimasukkan ± 1/3 bagian dalam pot yang sudah disediakan, dan masukkan akar pakis dalam pot tersebut.
Ø Botol yg berisi eksplan ,buka tutup botolnya dan isi dengan air secukupnya,kemudian di tutup kembali dan botol di gojok pelan-pelan untuk melepaskan media agar dari akar  dan akar yg saling menggumpal.
Ø Buka tutup botol,dan Bibit yg ada dlm botol( planlet) dikeluarkan dari dalam botol menggunakan kawat pengait,tarik scr pelan-pelan agar akar tidak putus atau patah
Ø kemudian dicuci dengan air yang mengalir atau cuci dalam bak, yakni sampai tidak ada lagi media yang menempel pada akar  tersebut. Setelah selesai dicuci ditiriskan.
Ø Akar – akar yang terlalu panjang atau yang rusak dan daun yg patah /rusak dipotong dengan gunting.
Ø Dan direndam dengan larutan bakterisida / fungisida ± 3 – 5 menit.dengan konsentrasi 2gram/Lt air
Ø Setelah itu ditiriskan kembali diatas kertas yang sudah disiapkan.
Ø Kemudian klasifikasikan  bibit tersebut berdasarkan ukurannya.
Ø Dan tanam bibit hasil kultur jaringan pada media yang sudah disiapkan, dan penanaman pada bibit yang berukuran besar ditanam ditengah dan menyesuaikan urutan besarnya bibit anggrek.
Ø Setelah selesai, bibit ditempatkan pada tempat yang teduh atau kelembaban media nya 80% dan sinar matahari 40% ( dalamGreen House ).
Ø Buat jadwal untuk perawatan ,dan pengamatan ,setelah selesai hasil kegiatan bisa untuk di persentasikan.


OKULASI
Kebutuhan akan tanaman dengan sifat yang baik semakin meningkat. Kebutuhan ini bila tidak diimbangi dengan penyediaan tanaman berkulitas dalam waktu cepat akan menimbulkan masalah. Selain itu rendahnya kemampuan menghasilkan tanaman dalam waktu cepat akan menurunkan nilai ekonomis dari pertanian. Oleh karena usaha-usaha diluar batas konvensional harus segera dilakukan untuk mengatasi hal ini.
            Pengembang biakan tanaman dalam hal ini tidak bisa lagi dilakukan dengan cara konvensional. Pengembangbiakan dengan cara konvensional seperti menggunakan biji akan membutuhkan waktu lama dan sifat dari tanaman baru yang dihasilkan akan berbeda dengan tanaman induk. Oleh karena itu metode pengembangbiakan vegetatif menjadi jawaban dari masalah ini. Pengembang biakan vegetatif adalah pengembangbiakan yang dilakukan secara tidak kawin yaitu menggunakan organ vegetatif dari tanaman.
            Keunggulan pembiakan tanaman secara vegetatif adalah waktu yang diperlukan untuk menghasilkan individu baru cepat dan individu yang dihasilkan memiliki sifat yang sama dengan tanaman induk. Oleh karena itu metode ini adalah metode yang mampu menjawab masalah sebelumnya, karena dengan metode vegetatif ini pembiakan tanaman tidak perlu menunggu tanaman melakukan penyerbukan terlebih dahulu dan juga bisa menjamin bahwa hasil dari tanaman yang dihasilkan memiliki sifat sama dengan tanaman induk.         
Salah satu metode dari pembiakan tanaman secara vegetatif adalah metode okulasi. Metode okulasi atau disebut juga metode Budding adalah metode pengembangbiakan tanaman dengan cara lateral grafting dengan menggunakan satu mata tunas sebagai batang atas. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh sifat-sifat baik / unggul yang dimiliki batang atas. Adapun pelaksanaannya dengan menyisikan mata tunas pada batang bawah diantara kedua buku. Bagan batang bawah diatas sisipan mata tunas dihilangkan agar mata tunas ini mempunyai kekuatan tumbuh untuk membentuk ujung batang baru sebagai pengganti bagian batang bawah yang telah dihilangkan.
-  Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara membiakkan tanaman dengan teknik okulasi.

-  Untuk mengetahui keberhasilan pembiakan tanaman secara okulasi dan untuk meningkatkan nilai
   penggunaan tanaman.

Okulasi sering juga disebut dengan menempel, oculatie (Belanda) atau Budding (Inggris). Cara memperbanyak tanaman dengan okulasi mempunyai kelebihan jika dibandingkan setek dan cangkok. Kelebihannya adlah hasil okulasi mempunyai mutu lebih baik daripada induknya. Bisa dikatakan demikian karena okulasi dilakukan pada tanaman yang mempunyai perakaran yang baik dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit dipadukan dengan tanaman yang mempunyai rasa buah yang lezat, tetapi mempunyai perakaran kurang baik. Tanaman yang mempunyai perakaran baik digunakan sebagai batang bawah. Sedang tanaman yang mempunyai buah lezat diambil mata tunasnya untuk ditempelkan pada batang bawah yang dikenal dengan sebutan entres atau batang atas (Wudianto, 2002).

Pengaruh Batang Bawah Terhadap Batang Atas
            Menurut Ashari (1995) pengaruh batang bawah terhadap batang atas antara lain
(1) mengontrol kecepatan tumbuh batang atas dan bentuk tajuknya,
(2) mengontrol pembungaan, jumlah tunas dan hasil batang atas,
(3) mengontrol ukuran buah, kualitas dan kemasakan buah, dan
(4) resistensi terhadap hama dan penyakit tanaman.
Menurut Sumarsono (2002), Stadia entres berpengaruh terhadap pertumbuhan batang bawah. Pertambahan batang bawah yang diokulasi dengan entres muda selama 90 hari mencapai 1,80 cm, sedangkan yang diokulasi dengan entres agaktua dan tua bertambah sebnayak 1,20 cm dan 1,10 cm saja.
Pengaruh batang atas terhadap batang bawah juga sangat nyata. Namun pada umumnya efek tersebut timbal balik sebagaimana pengaruh batang bawah terhadap batang atas.  Perbanyakan Batang Bawah   Batang bawah ada yang berasal dari semai generatif dan dari tan vegetatif (klon). Batang bawah asal biji (semai) lebih menguntungkan dalam jumlah, umumnya tidak membawa virus dari  pohon induknya dan sistem perakarannya bagus. Kelemahannya yaitu secara genetik  tidak seragam. Variasi genetik ini dapat mempengaruhi penampilan tanaman  batang atas setelah ditanam. Oleh karena itu perlu dilakukan seleksi secermat mungkin terhadap batang bawah asal biji (Ashari, 1995).
Selain pengaruh batang atas dan batang bawah ada faktor yang tidak kalah penting dalam mempengaruhi keberhasilan dalam okulasi, faktor tersebut adalah faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan oksigen sangat berpengaruh dalam keberhasilan penyambungan dan okulasi. Faktor berikutnya adalah serangan penyakit yang menyebabkan kegagalan okulasi meningkat seiring dengan meningkatnya curah hujan dan kelembapan yang tinggi (Santoso, 2006). 
Alat dan Bahan :
          Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:
  -Pisau Okulasi (untuk menyayat dan mengupas kulit kayu).       -Entres (sebagai mata tunas).
-Gunting Pangkas( untuk memotong batang )                               -Tissue (untuk membersihkan peralatan )
-Batang bawah ( tanaman yang akan diokulasi)                        -Tali Plastik ( untuk melakukan pengikatan )
 -Alkohol (untuk mensterilkan peralatan seperti pisau okulasi)             -Lap (untuk membersihkan peralatan )
- Batu Asah (untuk mengasah peralatan yang tumpul )
  
Langkah Kerja :
-Menyiapkan alat dan bahan ,beserta K3 nya sebelum melaksanakan praktek untuk Okulasi
-Kerat kulit kayu batang bawah menggunakan pisau okulasi menbentuk huruf U terbalik ,panjang keratin 2-3cm dan lebarnya 1-1,5cm atau maksimal 1/3 lingkaran batang dengan posisi keraratan 20cm dari pangkal batang .dan mengerat jangan terlalu dalam karena dapat merusak jaringan kayunya
-kelupas kulit kayu di bidang karatan sehingga menyerupai lidah yg menjulur.
-Potong kulit sayatan yg menjulur dan sisakan sedikit di batang
-Sayat bagian mata tunas dari cabang entres sampai ke lapisan kayu dengan bentuk seperti perisai ,lakukan dengan hati-hati agar tidak merusak mata tunas.
-angkat bidang sayatan,lalu bersihkan lapisan kayu yg masih menempel.
-tempelkan mata tunas ke bidang keratin di antara kulit kayu dan jaringan kayu batang bawah .posisi mata tunas harus mengarah keatas dan tidak tertutup oleh kulit kayu .
-Ikat bidang tempelan dengan tali plastic yg sudah di tarik terlebih dahulu,pengikatan di mulai dari bawah ke atas (system genting).
-Rebahkan bagian pucuk batang dengan cara memotong batang pokoknya samapai separuh tebal batang dengan jarak 4-6cm dari lokasi atau bagian penempelantujuannya untuk mempercepat pertumbuhan mata tunas.
-satu bulan sudah berlalu kemudian pucuk batang yg di rebahkan di pangkas agar tunas dapat tumbuh dengan baik setelah itu luka bekas pangkasan di tutup dengan penutup luka seperti fungisida
-letakkan bibit pada tempat yg tidak langsung terkena sinar matahari ,lakukan penyiraman secara rutin setiap hari jika mata tunas tetap segar berarti penempelan berhasil dan ikatan waktunya di lepas atau di buka agar batang yg terus mengalami pertumbuhan tidak tercekik.
-bila hasil praktik sudah da hasilnya ,maka hasilo peraktek bisa untuk di persentasikan ke depan kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Aklimatisasi kultur jaringan. Fakultas Pertanian. Universitas Hasanuddin.
Marzuki, A. 1999.Pengaruh lama penyimpanan, konsentrasi sukrosa dan cahaya penyimpanan terhadap vigor planlet kentang (Solanum tuberosum L.).Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Sinaga, N. A. K. 2001. Pengaruh sukrosa dan lama simpan gelap terhadap vigor bibit krisan (Chysanthemum sp.).Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Torres, K. C. 1989. Tissue Culture Techniques for Horticultural Crops.Chapman and Hall. New York. London.
Wetherelll, D. F. 1982. introduction to in vitro Propagation. Avery Publishing Group Inc. Wayne, New Jersey.
             Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Hewindati, Yuni Tri. 2006. Hortikultura. Universitas Terbuka. Jakarta.
Rukmana, R. 1997. Mangga. Kanisius. Yogyakarta.
           Santoso, B. 2006. “Variasi Pertumbuhan Jati Muna Hasil Okulasi”. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 3(3):165-173.
           Sumarsono, Lasimin. 2002. Teknik Okulasi Bibit Durian Pada Stadia Entres dan Model Mata Tempel yang Berbeda. Jurnal Teknik Pertanian, (7) 1.
           Wudianto, Rini. 2002. Membuat Setek, Cangkok, dan Okulasi. Jakarta : Penebar Swadaya.
           Yusran dan Abdul Hamid Noer. 2011. “Keberhasilan Okulasi Varietas Jeruk Manis pada Berbagai peerbandingan Pupuk kandang”. Media Litbang Sulteng 4 (2) : 97-104.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar