AKLIMATISASI
Suatu tahapan yang sangat penting
dalam teknik kultur jaringan adalah aklimatisasi planlet yang ditanam secara
in vitro kedalam rumah kaca atau langsung ke lapang. Aklimatisasi merupakan
kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan
planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi
lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman
harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet)
tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan
dapat bertahan dikondisi lapang.
Aklimatisasi dilakukan untuk
mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum
ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui
kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.
Aklimatisasi bertujuan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur terhadap
lingkungan baru sebelum kemudian ditanam di lahan yang sesungguhnya.
Aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman beradaptasi sengan
perubahan lingkungan.
Berdasarkan
uraian diatas maka perlu adanya pengetahuan tentang bagaimana Memberikan
pengalaman tentang tata cara aklimatisasi planlet hasil kultur jaringan, serta
Mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum
ditanam di lapang dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam
lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.
Tujuan
dari praktikum ini agar kita dapat mengetahui bagaimana tentang tata
cara
aklimatisasi planlet hasil kultur jaringan.
Kegunaan
dari praktikum ini yaitu agar kita dapat mengadaptasikan tanaman hasil
kultur
jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam di lapang dan untuk
mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang
kurang
aseptik.Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tidak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik. Aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman beradaptasi sengan perubahan lingkungan (Torres, 1989).
Pada
tahap ini (aklimatisasi) diperlukan ketelitian karena tahap ini
merupakan tahap
kritis dan seringkali menyebabkan kematian planlet. Kondisi mikro
planlet
ketika dalam botol kultur adalah dengan kelembaban 90-100 %. Beberapa
sumber
menuliskan penjelasan yang berkaitan dengan hal tersebut.Bibit yang
ditumbuhkan
secara in vitro mempunyai kutikula yang tipis dan jaringan pembuluh yang
belum
sempurna (Wetherell, 1982).
Kutikula
yang tipis menyebabkan tanaman lebih cepat kehilangan air dibanding
dengan
tanaman yang normal dan ini menyebabkan tanaman tersebut sangat lemah
daya
bertahannya. Walaupun potensialnya lebih tinggi, tanaman akantetap
menjadi layu
karena kehilangan air yang tidak terbatas (Pospisilova et al,
1996).
Kondisi tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat langsung ditanam
dirumah kaca
(Wetherelll, 1982).
Mengacu
pada penjelasan tersebut di atas maka planlet terlebih dahulu harus
ditanam
didalam lingkungan yang memadai untuk pertumbuhannya kemudian secara
perlahan
dilatih untuk terus dapat beradaptasi dengan lingkungan sebenarnya di
lapang.
Lingkungan yang tersebut secara umum dapat diperoleh dengan cara
memindahkan
planlet kedalam plastik atau boks kecil yang terang dengan terus
menurunkan
kelembaban udaranya. Planlet-planlet tersebut kemudian diaklimatisasi
secara
bertahap mengurangi kelembaban relatif lingkungannya, yaitu dengan cara
membuka
penutup wadah plastik atau boks secara bertahap pula (Torres, 1989).
Selain
itu, tanaman juga memerlukan akar untuk menyerap hara agar dapat tumbuh
dengan
baik sehingga dalam tahap aklimatisasi ini diperlukan suatu media yang
dapat
mempermudah pertumbuhan akar dan dapat menyediakan hara yang cukup bagi
tanaman
(planlet) yang diaklimatisasi tersebut. Media yang remah akan memudahkan
pertumbuhan akar dan melancarkan aliran air, mudah mengikat air dan
hara, tidak
mengandung toksin atau racun, kandungan unsur haranya tinggi, tahan
lapuk dalam
waktu yang cukup lama. Media aklimatisasi bibit kultur jaringan krisan
dan
kentang di Indonesia saat ini adalah media arang sekam atau media
campuran
arang sekam dan pupuk kandang (Marzuki, 1999).
Arang
sekam merupakan salah satu media hidroponik yang baik karena memiliki
beberapa
keunggulan sebagai berikut; mampu menahan air dalam waktu yang relatif
lama,
termasuk media organik sehingga ramah lingkungan, lebih steril dari
bakteri dan
jamur karena telah dibakar terlebih dahulu, dan hemat karena bisa
digunakan
hingga beberapa kali (Sinaga, 2001).
Alat dan bahan :
Bahan dan
alat
yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :
-bibit
yang
telah berumur 8-12 minggu sejak dikulturkan,
-
Akar pakis
-
arang sekam (sebagai media tanam),
-Bakterisida
-Air
steril
-Fungisida
-Pot
(sebagai wadah tanam),
-Wadah/baskom persegi
-Pinset
-Pengaduk
-Timbangan
-Sendok
-Tirisan
-Alkohol
-Tissue atau Kapas
-Kertas
Langakah kerja
Ø Alat
dan Bahan disiapkan terlebih dahulu beserta Menertibkan K3 nya
Ø Sterilkan
media yang terdiri dari arang dan pakis,media arang dan akar pakis
terlebih dipotong-potong
terlebih dahulu agar ukurannya kecil, setelah itu baru media tersebut
dicuci
dengan air yang bersih. Rendam media tanam untuk aklimatisasi did lam
larutan
fungisida dan bakterisida dengan konsentrasi 2gram/Lt air,di rendam
selama 15 –
30 menit.
Ø Setelah
direndam tiriskan media tersebut, Penyusunan medianya yaitu arang
terlebih
dahulu dimasukkan ± 1/3 bagian dalam pot yang sudah disediakan, dan
masukkan
akar pakis dalam pot tersebut.
Ø Botol
yg berisi eksplan ,buka tutup botolnya dan isi dengan air
secukupnya,kemudian
di tutup kembali dan botol di gojok pelan-pelan untuk melepaskan media
agar
dari akar dan akar yg saling menggumpal.
Ø Buka
tutup botol,dan Bibit yg ada dlm botol( planlet) dikeluarkan dari dalam
botol
menggunakan kawat pengait,tarik scr pelan-pelan agar akar tidak putus
atau
patah
Ø kemudian
dicuci dengan air yang mengalir atau cuci dalam bak, yakni sampai tidak
ada
lagi media yang menempel pada akar tersebut.
Setelah selesai dicuci ditiriskan.
Ø Akar
– akar yang terlalu panjang atau yang rusak dan daun yg patah /rusak
dipotong
dengan gunting.
Ø Dan
direndam dengan larutan bakterisida / fungisida ± 3 – 5 menit.dengan
konsentrasi 2gram/Lt air
Ø Setelah
itu ditiriskan kembali diatas kertas yang sudah disiapkan.
Ø Kemudian
klasifikasikan bibit tersebut
berdasarkan ukurannya.
Ø Dan
tanam bibit hasil kultur jaringan pada media yang sudah disiapkan, dan
penanaman pada bibit yang berukuran besar ditanam ditengah dan
menyesuaikan
urutan besarnya bibit anggrek.
Ø Setelah
selesai, bibit ditempatkan pada tempat yang teduh atau kelembaban media
nya 80%
dan sinar matahari 40% ( dalamGreen House ).
Ø Buat
jadwal untuk perawatan ,dan pengamatan ,setelah selesai hasil kegiatan
bisa
untuk di persentasikan.
OKULASI
Kebutuhan akan tanaman dengan sifat yang baik semakin
meningkat. Kebutuhan ini bila tidak diimbangi dengan penyediaan tanaman
berkulitas dalam waktu cepat akan menimbulkan masalah. Selain itu rendahnya
kemampuan menghasilkan tanaman dalam waktu cepat akan menurunkan nilai
ekonomis dari pertanian. Oleh karena usaha-usaha diluar batas konvensional
harus segera dilakukan untuk mengatasi hal ini.
Pengembang
biakan tanaman dalam hal ini tidak bisa lagi dilakukan dengan cara
konvensional. Pengembangbiakan dengan cara konvensional seperti menggunakan
biji akan membutuhkan waktu lama dan sifat dari tanaman baru yang dihasilkan
akan berbeda dengan tanaman induk. Oleh karena itu metode pengembangbiakan
vegetatif menjadi jawaban dari masalah ini. Pengembang biakan vegetatif adalah
pengembangbiakan yang dilakukan secara tidak kawin yaitu menggunakan organ
vegetatif dari tanaman.
Keunggulan
pembiakan tanaman secara vegetatif adalah waktu yang diperlukan untuk
menghasilkan individu baru cepat dan individu yang dihasilkan memiliki sifat
yang sama dengan tanaman induk. Oleh karena itu metode ini adalah metode yang
mampu menjawab masalah sebelumnya, karena dengan metode vegetatif ini
pembiakan tanaman tidak perlu menunggu tanaman melakukan penyerbukan terlebih
dahulu dan juga bisa menjamin bahwa hasil dari tanaman yang dihasilkan
memiliki sifat sama dengan tanaman induk.
Salah satu metode dari pembiakan
tanaman secara vegetatif adalah metode okulasi. Metode okulasi atau disebut
juga metode Budding adalah metode
pengembangbiakan tanaman dengan cara lateral grafting dengan menggunakan satu
mata tunas sebagai batang atas. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh
sifat-sifat baik / unggul yang dimiliki batang atas. Adapun pelaksanaannya
dengan menyisikan mata tunas pada batang bawah diantara kedua buku. Bagan
batang bawah diatas sisipan mata tunas dihilangkan agar mata tunas ini
mempunyai kekuatan tumbuh untuk membentuk ujung batang baru sebagai pengganti
bagian batang bawah yang telah dihilangkan.
- Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui
cara membiakkan tanaman dengan teknik okulasi.
- Untuk mengetahui keberhasilan pembiakan tanaman
secara okulasi dan untuk meningkatkan nilai
penggunaan tanaman.
Okulasi sering juga disebut dengan
menempel, oculatie (Belanda) atau Budding (Inggris). Cara memperbanyak tanaman dengan
okulasi mempunyai kelebihan jika dibandingkan setek dan cangkok. Kelebihannya
adlah hasil okulasi mempunyai mutu lebih baik daripada induknya. Bisa dikatakan
demikian karena okulasi dilakukan pada tanaman yang mempunyai perakaran yang
baik dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit dipadukan dengan tanaman
yang mempunyai rasa buah yang lezat, tetapi mempunyai perakaran kurang baik.
Tanaman yang mempunyai perakaran baik digunakan sebagai batang bawah. Sedang
tanaman yang mempunyai buah lezat diambil mata tunasnya untuk ditempelkan pada
batang bawah yang dikenal dengan sebutan entres atau batang atas (Wudianto,
2002).
Pengaruh Batang Bawah
Terhadap Batang Atas
Menurut Ashari (1995) pengaruh
batang bawah terhadap batang atas antara lain
(1)
mengontrol kecepatan tumbuh batang atas dan bentuk tajuknya,
(2)
mengontrol pembungaan, jumlah tunas dan hasil batang atas,
(3)
mengontrol ukuran buah, kualitas dan kemasakan buah, dan
(4)
resistensi terhadap hama dan penyakit tanaman.
Menurut
Sumarsono (2002), Stadia entres berpengaruh terhadap pertumbuhan batang bawah.
Pertambahan batang bawah yang diokulasi dengan entres muda selama 90 hari
mencapai 1,80 cm, sedangkan yang diokulasi dengan entres agaktua dan tua
bertambah sebnayak 1,20 cm dan 1,10 cm saja.
Pengaruh
batang atas terhadap batang bawah juga sangat nyata. Namun pada umumnya efek
tersebut timbal balik sebagaimana pengaruh batang bawah terhadap batang
atas. Perbanyakan Batang Bawah Batang bawah ada yang berasal dari semai
generatif dan dari tan vegetatif (klon). Batang bawah asal biji (semai) lebih
menguntungkan dalam jumlah, umumnya tidak membawa virus dari pohon induknya dan sistem perakarannya bagus.
Kelemahannya yaitu secara genetik tidak
seragam. Variasi genetik ini dapat mempengaruhi penampilan tanaman batang atas setelah ditanam. Oleh karena itu
perlu dilakukan seleksi secermat mungkin terhadap batang bawah asal biji
(Ashari, 1995).
Selain
pengaruh batang atas dan batang bawah ada faktor yang tidak kalah penting dalam
mempengaruhi keberhasilan dalam okulasi, faktor tersebut adalah faktor
lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan oksigen sangat berpengaruh dalam
keberhasilan penyambungan dan okulasi. Faktor berikutnya adalah serangan
penyakit yang menyebabkan kegagalan okulasi meningkat seiring dengan
meningkatnya curah hujan dan kelembapan yang tinggi (Santoso, 2006).
Bahan dan alat yang digunakan dalam
praktikum ini yaitu:
-Pisau Okulasi (untuk menyayat dan mengupas
kulit kayu). -Entres (sebagai mata
tunas).
-Gunting Pangkas( untuk
memotong batang ) -Tissue (untuk membersihkan peralatan )
-Batang bawah ( tanaman yang
akan diokulasi) -Tali
Plastik ( untuk melakukan pengikatan )
-Alkohol
(untuk mensterilkan peralatan seperti pisau okulasi) -Lap (untuk membersihkan peralatan )
- Batu Asah (untuk mengasah peralatan yang
tumpul )
Langkah Kerja :
-Menyiapkan alat dan bahan ,beserta
K3 nya sebelum melaksanakan praktek untuk Okulasi
-Kerat kulit kayu batang bawah
menggunakan pisau okulasi menbentuk huruf U terbalik ,panjang keratin 2-3cm dan
lebarnya 1-1,5cm atau maksimal 1/3 lingkaran batang dengan posisi keraratan
20cm dari pangkal batang .dan mengerat jangan terlalu dalam karena dapat
merusak jaringan kayunya
-kelupas kulit kayu di bidang
karatan sehingga menyerupai lidah yg menjulur.
-Potong kulit sayatan yg menjulur
dan sisakan sedikit di batang
-Sayat bagian mata tunas dari cabang
entres sampai ke lapisan kayu dengan bentuk seperti perisai ,lakukan dengan
hati-hati agar tidak merusak mata tunas.
-angkat bidang sayatan,lalu
bersihkan lapisan kayu yg masih menempel.
-tempelkan mata tunas ke bidang
keratin di antara kulit kayu dan jaringan kayu batang bawah .posisi mata tunas
harus mengarah keatas dan tidak tertutup oleh kulit kayu .
-Ikat bidang tempelan dengan tali
plastic yg sudah di tarik terlebih dahulu,pengikatan di mulai dari bawah ke
atas (system genting).
-Rebahkan bagian pucuk batang dengan
cara memotong batang pokoknya samapai separuh tebal batang dengan jarak 4-6cm
dari lokasi atau bagian penempelantujuannya untuk mempercepat pertumbuhan mata
tunas.
-satu bulan sudah berlalu kemudian
pucuk batang yg di rebahkan di pangkas agar tunas dapat tumbuh dengan baik
setelah itu luka bekas pangkasan di tutup dengan penutup luka seperti fungisida
-letakkan bibit pada tempat yg tidak
langsung terkena sinar matahari ,lakukan penyiraman secara rutin setiap hari
jika mata tunas tetap segar berarti penempelan berhasil dan ikatan waktunya di
lepas atau di buka agar batang yg terus mengalami pertumbuhan tidak tercekik.
-bila hasil praktik sudah da
hasilnya ,maka hasilo peraktek bisa untuk di persentasikan ke depan kelas.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim, 2011. Aklimatisasi kultur jaringan. Fakultas Pertanian. Universitas
Hasanuddin.
Marzuki, A. 1999.Pengaruh lama
penyimpanan, konsentrasi sukrosa dan cahaya penyimpanan terhadap vigor planlet
kentang (Solanum tuberosum L.).Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian.
Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Sinaga, N. A. K. 2001. Pengaruh
sukrosa dan lama simpan gelap terhadap vigor bibit krisan (Chysanthemum
sp.).Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Torres, K. C. 1989. Tissue Culture
Techniques for Horticultural Crops.Chapman and Hall. New York. London.
Wetherelll, D. F. 1982. introduction
to in vitro Propagation. Avery Publishing Group Inc. Wayne, New Jersey.
Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas
Indonesia Press. Jakarta.
Hewindati,
Yuni Tri. 2006. Hortikultura.
Universitas Terbuka. Jakarta.
Rukmana,
R. 1997. Mangga. Kanisius.
Yogyakarta.
Santoso, B. 2006. “Variasi
Pertumbuhan Jati Muna Hasil Okulasi”.
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 3(3):165-173.
Sumarsono, Lasimin. 2002. Teknik
Okulasi Bibit Durian Pada Stadia Entres dan Model Mata Tempel yang Berbeda. Jurnal Teknik Pertanian, (7) 1.
Wudianto, Rini. 2002. Membuat Setek, Cangkok, dan Okulasi.
Jakarta : Penebar Swadaya.
Yusran dan Abdul Hamid Noer. 2011.
“Keberhasilan Okulasi Varietas Jeruk Manis pada Berbagai peerbandingan Pupuk
kandang”. Media Litbang Sulteng 4 (2)
: 97-104.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar